Sistem
ekskresi adalah sistem pembuangan zat-zat sisa pada makhluk hidup seperti karbon dioksida, urea,
racun dan lainnya.
Ginjal
adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga retroperitoneal
bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke
medial. Kedua ginjal terletak di sekitar
vertebra T12 hingga L3. Ginjal kanan
biasanya terletak sedikit di bawah ginjal kiri untuk memberi tempat untuk
hati.
Sebagian
dari bagian atas ginjal terlindungi oleh
iga
ke sebelas dan duabelas. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak (lemak perirenal
dan lemak pararenal) yang membantu meredam goncangan.
Berat dan
besar ginjal bervariasi; hal ini tergantung jenis kelamin, umur, serta ada
tidaknya ginjal pada sisi lain.Pada orang dewasa, rata-rata ginjal memiliki
ukuran panjang sekitar 11,5 cm, lebar sekitar 6 cm dan ketebalan 3,5 cm dengan
berat sekitar 120-170 gram atau kurang lebih 0,4% dari berat badan.
[1] Ginjal memiliki bentuk seperti
kacang dengan lekukan yang menghadap ke dalam. Di tiap ginjal terdapat bukaan
yang disebut hilus yang menghubungkan
arteri renal,
vena renal, dan
ureter.
Nefron
adalah unit fungsional terkecil dari
ginjal yang terdiri atas
tubulus kontortus proximal,
tubulus kontortus distal dan
duktus
koligentes.
[1] Masing-masing ginjal manusia
terdiri dari kurang lebih 1 juta nefron, masing-masing mampu membentuk
urin.
Ginjal tidak dapat nefron membentuk nefron
baru, oleh karena itu jika ada kerusakan nefron karena trauma ginjal atau
penyakit ginjal jumlah nefron akan trun bertahap. Jumlah nefron berfungsi akan
menurun kira-kira 10% setiap 10 tahun. Berkurangnya fungsi ini tidak mengancam
jiwa karena perubahan adaptif sisa nefron menyebabkan nefron tersebut dapat
mengeluarkan air,
elektrolit, dan
produk sisa dalam jumlah yang tepat.
[2]
Urin atau
air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang di
ekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh
melalui proses
urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk
membuang molekul-molekul sisa dalam
darah yang disaring oleh
ginjal dan untuk menjaga
homeostasis cairan
tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana
komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal,
dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh
melalui uretra. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa
metabolisme (seperti
urea), garam terlarut, dan materi organik.
Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau
cairan
interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi
ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam
tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar
yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan
dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui
melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber
nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat
digunakan untuk mempercepat pembentukan
kompos.
Diabetes adalah suatu
penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes
akan mengandung
gula yang tidak akan ditemukan dalam urin
orang yang sehat. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti
racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.
Anggapan
umum menganggap urin sebagai zat yang "kotor". Hal ini berkaitan
dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang
terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung
bakteri. Namun jika urin berasal dari
ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin
sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang dihasilkan berasal dari
urea.
Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan zat yang steril
Urin dapat
menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan
mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan
mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat.
Terapi
urin
Amaroli
adalah salah satu usaha pengobatan tradisional India,
Ayurveda.
Dukun
Aztec
menggunakan urin untuk membasuh luka luar sebagai pencegah infeksi dan diminum
untuk meredakan sakit lambung dan usus.
Bangsa
Romawi Kuno menggunakan urin sebagai
pemutih pakaian.
Di
Siberia, orang
Kroyak
meminum urin orang yang telah mengonsumsi
fly agaric (sejenis jamur
beracun yang menyebabkan halusinasi bahkan kematian) atau sejenisnya untuk
berkomunikasi dengan roh halus.
Dahulu di
Jepang, urin dijual untuk dibuat menjadi
pupuk.
Usus
adalah bagian dari
sistem pencernaan
yang bermula dari
lambung hingga
anus
. Pada usus terdiri dari dua bagian:
usus kecil dan
usus besar (kolon). Pada usus kecil terbagi
lagi menjadi
duodenum,
jejunum, dan
ileum,
sedangkan usus besar terbagi menjadi
cecum,
kolon, dan
rektum.
[1] Secara makroskopis, usus halus
dibagi menjadi duodenum, jejunum dan ileum yang kontinyu satu sama lain dan
pada dasarnya mempunyai struktur histologis hampir sama
Tinja atau
feses atau dalam bahasa kasarnya disebut tahi adalah produk buangan
saluran pencernaan hewan
yang dikeluarkan melalui
anus atau
kloaka. Pada
manusia, proses pembuangan kotoran dapat
terjadi (bergantung pada individu dan kondisi) antara sekali setiap satu atau
dua hari hingga beberapa kali dalam sehari. Pengerasan tinja atau feses dapat
menyebabkan meningkatnya waktu dan menurunnya frekuensi
buang air besar antara pengeluarannya atau
pembuangannya disebut dengan
konstipasi atau
sembelit. Dan sebaliknya, bila pengerasan tinja atau feses terganggu,
menyebabkan menurunnya waktu dan meningkatnya frekuensi
buang air besar disebut dengan
diare
atau mencret.
Bau khas
dari tinja atau feses disebabkan oleh aktivitas
bakteri. Bakteri menghasilkan senyawa
seperti
indole,
skatole,
dan
thiol
(senyawa yang mengandung
belerang), dan juga
gas
hidrogen sulfida. Asupan makanan berupa
rempah-rempah dapat menambah bau khas feses atau tinja. Di pasaran juga
terdapat beberapa produk komersial yang dapat mengurangi bau feses atau tinja.
Tinja atau
feses baik dari hewan (lebih sering dipakai) maupun dari manusia (jarang
dipakai) dapat juga digunakan sebagai
pupuk
kandang, sebagai sumber
bahan bakar yang
disebut
bio gas, namun beberapa kalangan menganggap
bahwa menggunakan kotoran manusia untuk pupuk atau keperluan lain adalah hal
yang dianggap kurang
etis.
Karbon
dioksida tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di bawah 5,1
atm
namun langsung menjadi padat pada temperatur di bawah -78 °C. Dalam bentuk
padat, karbon dioksida umumnya disebut sebagai
es kering.
CO
2
adalah
oksida
asam. Larutan CO
2 mengubah warna
lakmus dari biru menjadi merah muda.
Keringat
adalah air yang dikeluarkan oleh kelenjar keringat pada
kulit
mamalia. Kandungan utama dalam keringat
adalah
natrium klorida
(bahan utama garam dapur) selain bahan lain (yang mengeluarkan aroma) seperti
2-metilfenol (
o-kresol) dan 4-metilfenol (
p-kresol).
Pada
manusia, keringat dikeluarkan untuk
mengatur suhu tubuh, walaupun ada yang beranggapan bahwa komponen dari keringat
laki-laki dapat berfungsi sebagai
feromon[1].
Penguapan
keringat dari permukaan kulit memiliki efek pendinginan karena
panas
laten penguapan air yang mengambil panas dari kulit. Oleh karena itu, pada
cuaca
panas, atau ketika otot memanas karena bekerja keras, keringat dihasilkan.
Keringat meningkat dalam keadaan gugup dan mual, serta menurun dalam keadaan
demam.
Hewan-hewan yang memiliki sedikit kelenjar keringat, seperti
anjing, menurunkan temperatur tubuh dengan membuka
mulutnya sambul menjulurkan lidah (terengah-engah), sehingga air menguap dari
rongga mulut dan
faringnya. Hewan
primata dan
kuda,
memiliki kelenjar keringat di ketiak seperti pada manusia.
Lobus
hati terbentuk dari
sel
parenkimal dan
sel
non-parenkimal.
[2]
Sel parenkimal pada hati disebut
hepatosit, menempati sekitar 80%
volume hati dan melakukan berbagai fungsi utama hati.
40% sel hati terdapat pada lobus sinusoidal. Hepatosit merupakan sel endodermal
yang terstimulasi oleh
jaringan mesenkimal
secara terus-menerus pada saat
embrio hingga berkembang
menjadi sel parenkimal.
[3]
Selama masa tersebut, terjadi peningkatan
transkripsi mRNA
albumin sebagai stimulan proliferasi dan
diferensiasi sel endodermal menjadi hepatosit.
[4]
Lumen
lobus terbentuk dari
SEC dan
ditempati oleh 3 jenis sel lain, seperti
sel Kupffer,
sel Ito,
limfosit intrahepatik seperti
sel pit. Sel non-parenkimal menempati
sekitar 6,5% volume hati dan memproduksi berbagai substansi yang mengendalikan
banyak fungsi hepatosit.
Sel Ito berada pada jaringan
perisinusoidal, merupakan sel dengan banyak
vesikel lemak
di dalam
sitoplasma yang mengikat SEC sangat kuat
hingga memberikan lapisan ganda pada lumen lobus sinusoidal. Saat hati berada
pada kondisi normal, sel Ito menyimpan
vitamin A guna mengendalikan kelenturan
matriks ekstraselular yang dibentuk dengan SEC, yang juga merupakan kelenturan
dari lumen sinusoid.
Sel Kupffer berada pada jaringan
intrasinusoidal, merupakan
makrofaga dengan
kemampuan
endositik dan
fagositik yang mencengangkan. Sel Kupffer
sehari-hari berinteraksi dengan material yang berasal
saluran pencernaan
yang mengandung
larutan bakterial, dan mencegah aktivasi
efek toksin senyawa tersebut ke dalam hati. Paparan larutan bakterial yang
tinggi, terutama paparan
LPS, membuat
sel Kupffer melakukan
sekresi berbagai
sitokina yang memicu proses
peradangan dan dapat mengakibatkan cedera
pada hati. Sekresi antara lain meliputi
spesi oksigen
reaktif,
eikosanoid,
nitrogen monoksida,
karbon monoksida,
TNF-α,
IL-10, sebagai respon
kekebalan
turunan dalam fase
infeksi primer.